← Profil penulisSeri Belajar AIBuku lainnya

BAB 3

Apa itu Large Language Model (LLM)?

Sejarah, dasar logika, proses training, dan studi kasus mudah

3.1 Sejarah Singkat: dari Model Bahasa Sederhana ke LLM

Model bahasa awalnya sangat sederhana — model n-gram, yang hanya menghitung “kata apa yang paling sering muncul setelah kata ini”. Lalu muncul RNN/LSTM (1990an–2010an) yang memproses kata berurutan tapi lambat dan gampang “lupa” konteks panjang.

Titik baliknya: Transformer (2017) memungkinkan model memproses seluruh kalimat sekaligus lewat self-attention. Dari situ lahir generasi LLM modern: GPT-1 dan BERT (2018), GPT-2 (2019) yang mulai menulis paragraf koheren, GPT-3 (2020) yang mengejutkan dunia dengan “few-shot learning”, lalu ChatGPT (November 2022) yang memopulerkan teknik RLHF. Anthropic lahir 2021 dari mantan peneliti OpenAI yang fokus membuat LLM lebih aman, melahirkan Claude.

3.2 Dasar Logika: Bagaimana LLM Sebenarnya “Menulis” Kalimat

LLM tidak “berpikir” jawaban lengkap sekaligus. Ia bekerja secara autoregresif — menebak satu token berikutnya, lalu token itu ditambahkan kembali ke input, lalu menebak lagi, diulang sampai jawaban selesai: (1) Tokenisasi, (2) Embedding, (3) Self-Attention, (4) distribusi probabilitas token berikutnya, (5) token dipilih (tergantung “temperature”), (6) token ditambahkan ke input, ulangi.

Siklus autoregressive: setiap token baru yang dihasilkan ditambahkan kembali ke input, lalu proses diulang untuk menebak token berikutnya.
Siklus autoregressive: setiap token baru yang dihasilkan ditambahkan kembali ke input, lalu proses diulang untuk menebak token berikutnya.

3.3 Studi Kasus Mudah: Melengkapi Kalimat “Kucing suka makan ___”

Bayangkan Anda mengetik “Kucing suka makan” ke Claude. Di balik layar, model menghitung distribusi probabilitas kira-kira begini: “ikan” 45%, “tikus” 20%, “daging” 15%, “rumput” 2%. Model memilih “ikan” (paling mungkin), menambahkannya jadi “Kucing suka makan ikan”, lalu mengulang proses untuk menebak kata berikutnya lagi.

Ini persis kenapa LLM kadang terasa “mengarang” hal yang salah (halusinasi) — ia tidak mengecek fakta, ia hanya memilih kata yang secara statistik paling masuk akal.

3.4 Bagaimana LLM Dilatih Jadi Asisten yang Membantu

LLM melewati dua tahap besar: Pretraining — model membaca triliunan kata dari internet/buku, hanya belajar menebak kata berikutnya. Hasilnya model yang pintar melanjutkan teks, tapi belum tentu “membantu”.

Fine-tuning dengan RLHF (Reinforcement Learning from Human Feedback) — manusia menilai berbagai jawaban model, dan model “dihadiahi” untuk menghasilkan jawaban seperti itu. Inilah yang mengubah model dari sekadar “penyambung kalimat pintar” menjadi asisten seperti Claude.

Training pipeline LLM: Pretraining → Model Dasar → Fine-tuning RLHF → Model Asisten → Deployment.
Training pipeline LLM: Pretraining → Model Dasar → Fine-tuning RLHF → Model Asisten → Deployment.

3.5 Istilah Kunci Tambahan

IstilahArti
AutoregressiveCara model menghasilkan teks satu token demi satu token.
TemperaturePengaturan seberapa “berani”/acak model memilih kata.
RLHFReinforcement Learning from Human Feedback.
Prompt engineeringTeknik menyusun instruksi agar mendapat jawaban terbaik dari LLM.
System promptInstruksi tersembunyi di awal percakapan yang mengatur perilaku model.